Sedang ingin memujimu

neng geulis dengan rambut panjang terurai
atau idola pujaan berambut pirang menantang
tiada yang lebih cantik dari jilbabmu duhai wanitaku
lembaran kain terlipat rapi begitu manis membingkai parasmu nan rupawan
mata elok yang senantiasa berbinar saat menatapku
pipi lucu yang berkerut menampakkan lesung indah kala kau tersipu
serta bibir lembut dan hidung mungil yang semakin menambah pesona pemandangan di sela-sela jilbabmu
membuatku membisu terpaku tanpa daya

gelegar ucapan para orator yang menundukkan ribuan kepala
atau nyanyian-nyanyian merdu musisi terkemuka di berbagai penjuru dunia
tiada yang lebih menarik di telingaku
bila dibandingkan tutur kata lembut kekasihku
bisikan kalimat syahdu merayu yang tulus dari hati nan bersahaja
senantiasa mengalun menyuarakan haru dan tawa dalam melodi

berbagai kemolekan lalu lalang di sekitarku
berenggak-lenggok menawarkan pesona di sudut pandanganku
namun di hati ini tiada yang dapat menggantikanmu wahai perempuanku
pesona auramu memancar bersama sinar mentari memberi warna pada hari-hariku
lembut belaimu menghangatkanku diantara dinginnya angin malam
memanjakanku dengan jemari kecilmu

kau selalu hadir dalam hidupku
di nyata dan mimpiku
senantiasa memenuhi hati serta pikiranku

meski kau tak ada disini menemaniku menulis bait-bait ini
namun cukup dengan menutup mata, sosokmu muncul dalam sekejap di hadapanku
menawarkan sejuta inspirasi dengan tangan terbuka
membisikkan sejuta semangat bagi langkahku
membangkitkan sejuta asa dalam dada

Jeritan dari Cianjur

siang itu mentari mulai beranjak ke barat
meski demikian masih terasa teriknya
menghangatkan bumi tempatku berpijak
menembus cadas di tepian bukit

masih belum sadar aku akan apa yang terjadi
berdiriku diantara jiwa-jiwa sayu
sekumpulan wajah pucat pasi
yang tersebar di hamparan tandus bebatuan

masih tersisa sedikit getaran di tanah yang kuinjak
sisa-sisa gempa yang baru saja mengguncang negriku
membelah lembah menyayat bukit
menebar maut dan pilu

tungkai kakiku jatuh tersungkur
beradu lutut ini menghujam tanah bebatuan
baru kusadari pergelangan kaki kiriku membengkak
sementara beberapa memar terasa di lenganku

dihadapanku tampak seorang bocah
duduk bersimpu tampak mengais sesuatu
jemari kecilnya mencakar-cakari tanah
memungut serpihan demi serpihan batu disana

tangisnya menyeruak memecah keheningan
nafasnya terengah-engah sesenggukan
tak jelas apa yang ia coba katakan
tak jelas nama siapa yang ia teriakkan

kuku-kuku jemari bocah itu mulai berdarah
meski demikian tak ia hiraukan
tiada henti ia terus menerus menggali
berharap menemukan sesuatu yang ia cari

kaki kiriku masih mati rasa
belum dapat ku bangkit kembali tuk berdiri tegak
ku hanya bisa bersimpuh diantara bebatuan
menatap galau kesekitarku

mentari semakin menurun dan mulai tampak kemerahan
belum beranjak diriku dari tempatku berada tadi
teriakan-teriakan disekitarku mulai mereda
tinggal suara tangis pilu dari jiwa-jiwa yang sayu

mulai terasa nyeri dan perih di kaki kiriku
serasa dikuliti hidup-hidup
ngilu yang tak tertahankan merasuk ke sumsum tulangku
aku tak kuasa menahan hingga tetes airmata perih membasahi pipi ini

kurebahkan diriku dihamparan bebatuan
sementara orang-orang mulai berlarian disekitarku
sebagian menjauh dengan penuh cemas dan ketakutan
sebagian berdatangan mengais diantara puing-puing

kucoba memejamkan mata diantara perih yang kurasa
namun mata ini seolah ikut merasakan nyeri di kakiku
kulihat bocah kecil tadi tak sadarkan diri di atas tandu
dengan tangan masih berlumuran darah

suara lolongan yang kudengar tepat disampingku telah hilang sama sekali
hingga kudapati dia telah menjadi mayat
dengan darah kehitaman mengalir dari hidung dan telinganya
tertimbun belasan butir batu cadas sebesar semangka

aku masih lemas tak berdaya
nyeri di kakiku mulai menghilang
entah memang sudah senja atau hanya perasaanku saja
tapi segala sesuatu disekitarku semakin gelap

sepasang tangan menepuk-nepuk pipiku
pasang tangan lain mengguncang tangan dan tubuhku
sesekali ia menempelkan telinganya di dadaku
lalu menekan-nekan dengan kedua tangannya

aku tahu semua yang mereka lakukan
namun seiring rasa perih di kakiku menghilang
aku tak pula dapat merasakan sentuhan-sentuhan mereka
tak lagi dapat melihat wajah dan tangan-tangan mereka

wisnu untuk Indonesiaku
read on facebook