Kolibri

kolibri1Kolibri

seekor kolibri terbang di sekelilingku
kuning di sekujur tubuhnya
hanya beberapa helai bulu hijau tamapak di sekitar lehernya

keringat di dahiku belum kering betul
ransel dan bekal tergeletak di sudut kaki
tali-talinya mulai usang termakan waktu
warnanyapun kusam disapu masa

semakin jauh dari pandangan puncak bukit yang barusan kuturuni
tiada lagi tampak ranting dan dedaunan yang kujejak

kolibri itu hinggap tak jauh dari tempatku
bertengger di ujung ranting mahoni yang mulai mengering
tunas-tunas daun muda tumbuh di pangkalnya
menghijau di sela-sela kulit kayu yang mulai mengelupas

sang kolibri melompat ke ranting yang lebih rendah
bergerak-gerak kepalanya mencari sudut pandang yang tepat
mengamati dengan seksama seonggok ransel kumal disisiku

aku berandai-andai apa yang dipikirkannya
warna ransel kumal ini tak mungkin menarik perhatiannya
tak satupun bekalku tersisa untuk dimakannya
entah apa gerangan yang dia cari disana

bayangan mahoni semakin memanjang
terik mentari siang tersapu hembusan angin gunung nan sejuk
menerbangkan dedaunan kering disekelilingku

diam-diam aku memperhatikan kolibri di hadapanku
kuikuti setiap gerak-gerik kepalanya
kutiru setiap arah pandangan matanya

entah sudah berapa lama aku duduk disana
lumpur di sepatuku telah mengeras
peluh tak lagi terasa membasahi wajahku
celanaku penuh dengan serbuk sari rumput
sedikit demi sedikit kuseka dengan ranting kering

kolibri itu masih di tempat yang sama
namun kini tak lagi memperhatikan ranselku

hembusan angin semilir sedikit menggoyahkan cengkramannya
mengayun-ayunkan tubuhnya diatas ranting nan rapuh
sesekali sayap kecilnya mengepak melawan arah angin
mempertahankan dirinya diatas sana

langit masih cerah
hanya awan tipis sesekali lewat

nyeri mulai kurasakan di pergelangan kaki kananku
keseleo tadi pagi yang sedikit kupaksakan kini semakin menyiksaku
perumahan penduduk masih jauh dibawah sana
mungkin rekan-rekanku kini tengah mampir di kedai kopi
merokok sambil melahap gorengan hangat
sambil bersendau gurau dengan penduduk setempat
sementara diriku tertahan disini
dengan kaki yang nyaris tak mungkin kutapakkan

tiba-tiba sang kolibri terbang jauh entah kemana
dan menghilang dibalik dedaunan mahoni yang mulai mengering

aku buka sepatuku perlahan
pergelangan kakiku biru menghitam seperti dugaanku
serta terlihat pucat di bagian telapak dan ujung-ujung jemarinya

matahari telah memerah ketika aku terbangun
hembusan angin gunung membuaiku dalam lelah

kolibri itu telah kembali di ranting yang sama
kali ini tatapan matanya tertuju ke arahku
dan kembali aku berandai-andai
dari mana saja dia terbang tadi
apa yang hendak dia cari

samar-samar dari kejauhan kudengar teriakan-teriakan
seperti suara rekan-rekanku memanggil namaku
namun aku terlalu asik memperhatikan kolibri disampingku
menikmati tingkah lakunya di atas ranting
menari-nari dengan sayap kecilnya

hati kecilku berharap
semoga senja datang terlambat
biar masih jelas olehku kuning hijaunya bulu kolibri
yang menari-nari dihadapanku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *