Monthly Archives: September 2009

Openmeetings, solusi konferensi open source (installasi)

Berbicara mengenai video conferencing, pasti terbayang oleh kita seperangkat peralatan canggih dan mahal mulai dari audio system, microphone meja, projector dan kamera CCTV canggih. Belum lagi multimedia network device yang menyediakan fasilitas jaringan sehingga dapat mentransmisikan data-data audio/visual dari satu tempat ke tempat yang lain. Dengan demikian kedua lokasi yang cukup jauh itu dapat saling berkomunikasi. Dari penjabaran ini saja telah terbayang betapa rumit dan mahalnya melakukan tele conference. Continue reading Openmeetings, solusi konferensi open source (installasi)

Sugeng Riyadi

gusNderek ngaturaken sugeng riyadi, ugi nyuwun agunging samudro pangaksami bilih anggene kulo nglampahi sesrawungan tasih wonten lintu lan lepatipun dumateng panjenengan sami sedoyo.
Mugi kulo lan panjenengan sami sedoyo tansah pinaringan tetep islam, iman, pinaringan rahmat ugi barokahipun gusti Allah SWT supados saget netepi syari’atipun kanjeng nabi Muhammad SAW kanthi ikhlas Lillahi Ta’ala.

Jeritan dari Cianjur

siang itu mentari mulai beranjak ke barat
meski demikian masih terasa teriknya
menghangatkan bumi tempatku berpijak
menembus cadas di tepian bukit

masih belum sadar aku akan apa yang terjadi
berdiriku diantara jiwa-jiwa sayu
sekumpulan wajah pucat pasi
yang tersebar di hamparan tandus bebatuan

masih tersisa sedikit getaran di tanah yang kuinjak
sisa-sisa gempa yang baru saja mengguncang negriku
membelah lembah menyayat bukit
menebar maut dan pilu

tungkai kakiku jatuh tersungkur
beradu lutut ini menghujam tanah bebatuan
baru kusadari pergelangan kaki kiriku membengkak
sementara beberapa memar terasa di lenganku

dihadapanku tampak seorang bocah
duduk bersimpu tampak mengais sesuatu
jemari kecilnya mencakar-cakari tanah
memungut serpihan demi serpihan batu disana

tangisnya menyeruak memecah keheningan
nafasnya terengah-engah sesenggukan
tak jelas apa yang ia coba katakan
tak jelas nama siapa yang ia teriakkan

kuku-kuku jemari bocah itu mulai berdarah
meski demikian tak ia hiraukan
tiada henti ia terus menerus menggali
berharap menemukan sesuatu yang ia cari

kaki kiriku masih mati rasa
belum dapat ku bangkit kembali tuk berdiri tegak
ku hanya bisa bersimpuh diantara bebatuan
menatap galau kesekitarku

mentari semakin menurun dan mulai tampak kemerahan
belum beranjak diriku dari tempatku berada tadi
teriakan-teriakan disekitarku mulai mereda
tinggal suara tangis pilu dari jiwa-jiwa yang sayu

mulai terasa nyeri dan perih di kaki kiriku
serasa dikuliti hidup-hidup
ngilu yang tak tertahankan merasuk ke sumsum tulangku
aku tak kuasa menahan hingga tetes airmata perih membasahi pipi ini

kurebahkan diriku dihamparan bebatuan
sementara orang-orang mulai berlarian disekitarku
sebagian menjauh dengan penuh cemas dan ketakutan
sebagian berdatangan mengais diantara puing-puing

kucoba memejamkan mata diantara perih yang kurasa
namun mata ini seolah ikut merasakan nyeri di kakiku
kulihat bocah kecil tadi tak sadarkan diri di atas tandu
dengan tangan masih berlumuran darah

suara lolongan yang kudengar tepat disampingku telah hilang sama sekali
hingga kudapati dia telah menjadi mayat
dengan darah kehitaman mengalir dari hidung dan telinganya
tertimbun belasan butir batu cadas sebesar semangka

aku masih lemas tak berdaya
nyeri di kakiku mulai menghilang
entah memang sudah senja atau hanya perasaanku saja
tapi segala sesuatu disekitarku semakin gelap

sepasang tangan menepuk-nepuk pipiku
pasang tangan lain mengguncang tangan dan tubuhku
sesekali ia menempelkan telinganya di dadaku
lalu menekan-nekan dengan kedua tangannya

aku tahu semua yang mereka lakukan
namun seiring rasa perih di kakiku menghilang
aku tak pula dapat merasakan sentuhan-sentuhan mereka
tak lagi dapat melihat wajah dan tangan-tangan mereka

wisnu untuk Indonesiaku
read on facebook