bulan separo di muzdalifah

Mentari telah terbenam kala rombonganku tiba di arofah… Malam itu, 8 Dulhijah 1428 udara tak sedingin madinah, namun tak sepanas mekah. Sedikit penat masih tersisa, ihrom di badan menjadi teman malam itu. Dua lembar kain ini menghangatku dari hembusan angin gurun pasir, menahan tubuh di atas bebatuan, memberikan rasa nyaman untuk beristirahat sejenak malam itu. Menanti mentari yang kan membuka hari arafah tahun ini.

Ribuan orang duduk di gurun yang sama denganku. Sekedar melepas lelah dan mengatur posisi masing-masing untuk wukuf keesokan harinya di tenda masing-masing. Beberapa diantaranya mulai mengantri makanan. Wadah-wadah plastik dibagikan dan satu persatu memenuhinya dengan nasi dan lauk. Mengganjal perut yang tak terisi sejak siang tadi. Ditemani wirid dan do’a, kulewati malam itu…

Mentari terbit juga keesokan harinya. Teringat aku akan kisah Nabiyullah Adam AS. Ketika pertama kali beliau diturunkan kebumi. Dunia ini masih dalam keadaan gelap gulita. Hingga matahari terbit, dan beliau melihat terbitnya mentari untuk pertama kalinya. Rasa takjub yang sama kurasakan. Kebesaran Allah nampak jelas di setiap sorot mentari pagi itu. Matahari terbit yang telah ribuan kali kulihat di tanah air, medinah dan mekah. Terasa lain di Arofah, di hari dimana ribuan orang berkumpul untuk berwukuf…

Waja-wajah sayu tampak di sekitarku. Orang-orang tanpa apa-apa. Keluarga jauh di tanah air, harta benda ditinggalkan di mekah, pangkat dan jabatan ditanggalkan.  Hanya berbekal ihrom dan alas tidur seadanya, serta niat nan tulus untuk ibadah. Matahari mulai naik ketika sarapan pagi dibagikan. Beberapa orang ber kewarganegaraan afrika dan india melayani kami dengan ramah. Penuh sapa dan canda, mereka begitu memanjakan dan memuliakan kami. Bendera merah putih yang berkibar di depan tenda kami sangat dihormati disana.

Siang itu adzan dhuhur kukumandangkan di tenda. Dengan sisa-sisa tenaga dan kekuatan yang ada, kugetarkan seisi tenda dengan alunan suara-suara membesarkan keagunganNya. Usai menunaikan sholat dhuhur dan ashar jama’ qoshor, khotbah wukuf pun dimulai…

Suara lirih penuh haru memenuhi tenda kami. Menggema diantara wajah-wajah nan tertunduk layu. Terbayang apa jadinya kami di padang mahsyar nanti. Tanpa tenda dan pakaian ini, dengan matahari yang hanya sejengkal di atas kami…

Ya Allah… Tolonglah kami…

Ya Allah… Selamatkan kami…

Aghistna Ya Allah…

Sallimna Ya Allah…

Sallimna Ya Robbi…

Hanya kata-kata itu yang terbayang di benakku… Tak terasa air mata ini mengalir… Teringat aku akan apa yang telah kuperbuat selama ini. Apa yang telah kulakukan selama ini. Semua maksiat dan dosa yang menyelimuti jasad ini, berbagai perbuatan yang mengotori ruh ini…

Semakin tak kuasa aku menahan tangis… Kala KH Ahyaruddin memulai do’a khotbah… saat tiba di kata-kata “… Ya Allah… Matikan kami dengan menjaga kalimah LAA ILAHA ILLALLAH… MUHAMMADURRASULULLAH…” kata-kata yang terucap dengan lirih… dari jiwa-jiwa yang tanpa daya dan tanpa kekuatan… hanya berharap akan pertolongan dariNya…

Sisa-sisa tangis masih membekas di wajah-wajah kami, kala wirid dan do’a mengalun dari lidah-lidah kami yang lemah… memenuhi tenda yang dikoyak angin…

Mentari mulai menikuk, bersembunyi diantara bukit-bukit batu. Angin-angin gurun mulai datang berhembus. Adzan magrib pun kukumandangkan…

Suaraku tak lagi sekuat siang tadi, nafasku tak lagi sepanjang tempo hari, nada-nada indah menghilang dari alunan adzanku… Yang tersisa hanyalah sebuah seruan lirih seorang hamba yang memanggil umatNya tuk menegakkan sholat…

Sedikit penat tersisa ketika seruan-seruan berkumpul dipekikkan. Orang-orang dari tenda sebelah berbondong-bondong menuju pintu gerbang. Satu demi satu bis membawa mereka pergi entah kemana. Rombonganku masih berkumpul di luar tenda. Sisa-sisa kardus buah menjadi alas duduk kami. Beberapa petugas lalu-lalang sembari menebar senyum dan sapa. Siapa mereka? tiada yang saling mengenal. Hanya satu kata, Islam yang mempersatukan kami. Mengikat kami dalam sebuah persaudaraan universal, tak kenal warna kulit, darah keturunan, dan marga. Siapapun yang menginjakkan kaki di haramain adalah saudara bagi mereka. Bahkan mereka menganggap kami tamu agung yang dimuliakan Allah…

Tiba giliranku memasuki bis. Seorang ibu-ibu dari pekalongan kupersilakan duduk di tempatku, dan aku berdiri disampingnya. Dia mengenaliku, beberapa kali kami menjemur pakaian bersama di lantai teratas penginapan kami.  Sedikit ngobrol dan saling bertegur sapa, kami mewarnai perjalanan malam itu. Dan tak jauh dari tempat kami berangkat, bis berputar dan akhirnya terhenti di sebuah halaman yang sangat luas dikelilingi pagar kawat yang cukup tinggi. Satu demi satu dari kami memasukinya, dan mencari-cari bendera merah, tanda rombongan kami. Setelah menemukan rekan-rekan serombongan, kami duduk disana tuk mabit. Inilah muzdalifah, tempat peristirahatan dan persiapan sebelum ke mina…

Kucari lokasi yang cukup luas dan lapang untuk rombonganku, lalu kami gelar tikar dan kain seadanya untuk beristirahat disana. Ihrom yang masih menempel di badanku menjadi bantal dan selimut malam itu… Di halaman yang terbuka, tanpa sekat dan atap, ribuan orang berkumpul tuk sekedar beristirahat sejenak. Beberapa diantaranya mencari-cari kerikil tuk persiapan ke mina esok hari.

Kucari-cari tempat yang cukup panjang, lalu kuselonjorkan kakiku dan kurebahkan badan ini. Kumenengadahkan pandanganku ke langit nan luas… Tiada awan atau mendung, langit begitu cerah malam ini. Sejuta bintang nampak indah diatas sana… Dan seiris bulan separo, begitu menakjubkan malam itu…

Bulan separo di muzdalifah… Begitu indah dan menawan, menemani tidurku semalam disana…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *