Medinah, Kota Rasulullah yang slalu kurindukan

malam itu, 26 November 2007…

Kota MadinahAdzan maghrib berkumandang kala bus yang kami tumpangi mampir di pangkalan bis perbatasan kota Madinah. Suaranya sayup-sayup terdengar lain. Sedikit pilu namun penuh semangat menghapus penat setelah 6 jam perjalanan dari Jeddah. Mentari masih terlihat sebagian, bersiap tuk beranjak pergi. Udara begitu dingin dan kering, sesaat terbayang sehari lalu, kala masih duduk cemas menanti keberangkatan di aula embarkasi bandara adi sumarmo…

Beberapa sopir bus menyapa dengan ramah kala kami berpapasan di tempat wudlu. Seolah-olah kami adalah saudara jauh yang telah lama mereka nantikan, mereka rindukan. Sekembalinya aku ke bus,nampak beberapa orang tergopoh-gopoh membagikan makanan ke bus kami. Spontan aku berlari mendekat dan mengulurkan kedua tanganku tuk membantu. Kulihat senyum di wajah mereka, senyum yang begitu ikhlas dan tak pernah kutemui sebelumnya.

Perjalanan berlanjut. Gerbang kota Medinah cukup ramai, sederetan panser dengan laras mengarah ke bus kami menampakkan kekeramatan kota ini.  Baliho raksasa bertuliskan “Moslem Only” mempertegas bagi siapapun yang datang, betapa suci tanah ini. Setelah melewati beberapa posko, jamal seorang berkebangsaan afrika naik ke bus. Dia ceritakan sedikit mengenai kota ini. Dan di tengah perjalanan, aku melihat pemandangan yang takkan terlupakan seumur hidupku. Menara-menara masjid nabawi nampak begitu putih dari kejauhan. Begitu cerah seolah disorot cahaya dari atas arsy yang agung.

###

Siang itu, entah udah  berapa lama aku di medinah. Beberapa kali aku ketemu jama’ah dari india, pakistan, dan sekitarnya. Mereka mengenakan jubah panjang dengan surban kecoklatan tebal menyelimuti bahu mereka. Belanja?? apa salahnya… 😉

Kuputuskan tuk jalan-jalan ke ruko di sekitar masjid. Setelah sebelumnya mampir ke taman segitiga, sebuah taman kota dengan rerumputan dan beberapa kursi taman lengkap dengan beberapa kipas yang menyemburkan udara lembab ke sekitar situ. Benar-benar nyaman…

Sambil melahap sandwich (berbagi ama orang pakistan) lalu segelas teh susu hangat, sungguh nikmat sekali. Belum lagi suasana Medinah yang begitu ramah, serasa pulang kampung saja.

Perjalanan berlanjut, kususuri lorong-lorong diantara gedung-gedung nan tinggi menjulang. Beberapa orang berpakaian gamis menyapaku dengan ramah sambil berkata “lihat dulu… lihat dulu…” jangan heran kalau bahasa Indonesia merupakan bahasa sehari-hari pedagang disini. Satu dua darinya menyempatkan diri menyalamiku, bahkan ada seorang yang merangkul lalu mencium pipi kanan kiri, tanda persahabatan… Disini, bendera merah-putih di jaket biruku jadi pertanda bagi orang-orang sini seolah-olah kata Indonesia berarti “teman lama”, “sahabat”, atau apalah istilah mereka. Dan di salah satu pertokoan seorang pedagang menjabat tanganku sambil tersenyum ceria, lalu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, dan menarikku ke dalam tokonya. “mari sini, lihat dulu” dengan logat yang sedikit aneh tapi lucu 😉

Orang itu menawarkan pakaian gamis padaku, beberapa tampak menarik, dan kurasa ukurannya pas. Tapi aku pikir-pikir, lalu beranjak pergi. Dengan senyum ceria yang tadi, dia berdiri di tengah-tengah pintu dan membentangkan kedua tangannya “nanti dulu, lihat lagi…” lucu juga orang ini pikirku. Lalu iseng-iseng kuulurkan tanganku menggelitiki kedua sisi badannya yang terbuka lebar… dia tertawa ringan, lalu kami berjabatan tangan dan aku melangkah keluar. Dia tanyakan namaku, namun harindra wisnu merupakan kata-kata yang cukup sulit baginya, jadi sampai sekarang dia tak mampu mengingatnya. Namun masih saja setiap kali aku lewat tokonya, kami saling tersenyum satu sama lain, bukan sekedar teman atau sahabat, kami sudah seperti saudara, meski tidak saling kenal 😉

Di ruko yang tak jauh dari situ, kutemukan kain yang kuinginkan, warnanya kecoklatan, cukup tebal dan lembut. Tanpa pikir panjang, kutanyakan harganya. Seorang penjaga toko menawarkan dengan harga 60 riyal. wow, lalu aku tawar, dan ternyata seorang penjaga yang lain mau menerima hanya dengan 35 riyal 😉 mayan nih pikirku. langsung ganti kostum deh…

Sore itu, atau sore keesokan harinya (lupa) aku sedang menantikan adzan ashar di salah satu sisi masjid nabawi. Duduk di sebelahku seorang yang sudah cukup berumur, kira-kira 60-70an. Beliau menatapku dengan seksama… Bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. Tiba-tiba dia meletakkan tangannya di kain yang barusan kubeli. Dengan tangan kirinya ia tarik perlahan, lalu diusapkannya ke pipi beliau. Kembali dielusnya kain itu dengan tangan kanannya. Sambil berkata “sauf… sauf…” aku g ngerti apa artinya, tapi ekspresinya menunjukkan kalo itu kain yang bagus, dan aku g salah pilih hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *